Senin, 04 Mei 2009
MELIPATGANDAKAN & MEMAKSIMALKAN TALENTA
Dalam bukunya “Talent is Never Enough”, John Maxwell mengatakan bahwa bakat atau talenta saja ternyata tidak cukup untuk membawa orang menuju kepada puncak keberhasilan dan kesuksesan. Orang-orang seringkali memandang dan mengaitkan prestasi-prestasi luar biasa yang dilakukannya dengan bakatnya. Padahal itu adalah satu kebohongan dan kesalahan dalam meilai kesuksesan seseorang, karena banyak sekali orang berbakat yang hidupnya biasa-biasa saja dan malahan sama sekali tidak bisa meraih kesuksesan.
Dari ayat bacaan perumpamaan tentang talenta, saya menemukan beberapa poin mengenai bakat / talenta:
1. Ayat 14 – 15 ; Setiap orang dianugerahi talenta yang luar biasa oleh TUHAN. TUHAN memberikan kepada kita berbeda sesuai dengan kapasitas kita masing-masing, ada yang diberi 5, ada yang diberi 2, ada yang diberi 1. Mungkin kalau kita akan berpikir bahwa ALLAH itu tidak adil, kenapa DIA tidak memberikan kepada tiap-tiap orang dengan jumlah yang sama. Menurut saya, TUHAN tetap memiliki tujuan yang baik buat kita di balik semua itu.
Saya ambil contoh si A dan si B:
A lahir di dalam sebuah keluarga Kristen, yang semuanya sudah teratur dan sudah melakukan kebenaran; maka ALLAH mengaruniakan 5 talenta kepada si A.
B lahir di dalam keluarga non Kristen yang belum mengerti kebenaran dan ALLAH mengaruniakan hanya 2 talenta kepada si B. Karena talenta di tangan orang yang belum mengerti kebenaran, biasanya berujung kepada dosa kesombongan, sehingga apabila ALLAH mengaruniakan talenta yang lebih banyak kepada si B, bisa jadi seumur hidupnya dia tidak akan pernah mau mencari TUHAN.
Namun kabar gembiranya adalah bahwa ALLAH tidak menutup kemungkinan kalau si B / hamba yang diberikan 2 talenta, pada garis akhir memiliki jumlah talenta yang sama dengan si A / hamba yang diberikan 5 talenta pada awal. Bisa jadi mereka sama-sama memiliki 7 talenta atau bisa juga mereka sama-sama memiliki 10 talenta. Bakat adalah pemberian, tetapi kesuksesan harus diraih.
2. Ayat 30 : Tidak mempergunakan talenta atau bakat adalah suatu perbuatan berdosa. ALLAH tidak pernah memberikan sesuatu tanpa alasan. ALLAH menganugerahkan masing-masing kita talenta untuk dapat dipergunakan bagi kemuliaan nama-NYA. Proses itu harus terjadi sepanjang hidup kita. Dulu, sebelum tahu mengenai kebenaran, saya pernah berpikir untuk bekerja giat pada masa muda saya, dan akhirnya mendapatkan passive income yang mana nantinya pada masa tua saya tidak usah bekerja lagi dan tinggal bersantai-santai sambil menikmati sisa hidup saja. Tapi ternyata, dari ayat ini boleh disimpulkan bahwa: pada saat seeorang memutuskan untuk tidak berbuat apa-apa lagi untuk mengembangkan diri, pada titik itulah kita sudah mulai melakukan perbuatan dosa, karena tujuan hidup kita adalah untuk memuliakan-NYA bukan untuk memuliakan diri kita sendiri. Dan ternyata kalau dilogika, memang benar tujuan TUHAN, DIA bukan hanya egois dan mencari kemuliaan sendiri; namun alasan tersebut juga dipikirkan untuk kebaikan manusia. Orang-orang tua yang sudah tidak bekerja dan hanya bermalas-malasan saja, kebanyakan tidak mau mengembangkan diri lagi, sehingga akhirnya menjadi cepat pikun, secara otomatis pelan-pelan mulai terserang penyakit dan akhirnya cepat meninggal.
3. Ayat 28 : ALLAH bisa mencabut talenta kita / Bakat yang tidak dipergunakan bisa hilang. Bakat yang hanya disimpan dan tidak pernah dipergunakan, bisa saja diambil oleh ALLAH. Sebetulnya kalaupun kita mengusahakan dan tidak menghasilkan tambahan talenta, TUHAN tidak akan marah kepada kita. Karena kita diciptakan bagi kemuliaan ALLAH, sama saja artinya pada saat hamba itu mengubur talentanya, kemudian dia tidak melakukan apa-apa dan hanya bermalas-malasan saja. Dan kalaupun talenta itu sudah berkembang lipat ganda, TUHAN sama sekali tidak akan pernah memintanya kembali.
4. Tiap-tiap kita harus mempertanggungjawabkannya kepada TUHAN
Pilihan-Pilihan yang Dapat Dilakukan untuk Memaksimalkan Talenta:
A. KEYAKINAN / KEPERCAYAAN DIRI
Matius 17:20b …Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.
Dari ayat tersebut, kita bisa menyadari bahwa manusia memiliki potensi yang tidak terbatas. Tapi seringkali yang menciptakan batasan-batasannya adalah diri kita sendiri. Jika kita ingin menjadi lebih dari apa yang kita ada sekarang, kita perlu untuk yakin kepada diri sendiri, yakin akan kemampuan atau bakat kita. Keyakinan akan menciptakan impian-impian, impian menentukan harapan, harapan menentukan tindakan, dan akhirnya tindakan akan menentukan hasil.
Chris John, juara dunia tinju WBA, adalah sebuah contoh yang riil. Pada saat di Semarang, hampir setiap hari saya bertemu dengan Chris John yang sedang jogging di pinggir jalan. Jika kita memandang dari fisiknya yang kurus kering, kelihatannya Chris John sama sekali tidak ada potensi untuk menjadi juara dunia. Tapi saya yakin bahwa keyakinan diri dari sang ayah lah yang akhirnya mampu membentuk Chris menjadi seorang juara dunia seperti sekarang ini.
Keyakinan bisa ditumbuhkan dengan mengenali talenta kita dan percaya kepada diri sendiri lalu memiliki misi. Juga melalui komunitas; dalam hal ini lebih banyak berkaitan adalah komunitas keluarga.
B. GAIRAH / SEMANGAT
Amsal 18:14a Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya.
Dengan semangat, orang tidak akan pernah berhenti atau menyerah walaupun mereka mengalami kegagalan beberapa kali. Semangat adalah api, Seperti sumbu yang dibakar, api akan terus maju dan tidak akan pernah berhenti sampai berhasil.
Untuk menjaga semangat, kita perlu menyukai pekerjaan yang kita lakukan serta memberikan prioritas-prioritas kepada pekerjaan sesuai kesukaan kita. Juga sama seperti dengan keyakinan, komunitas adalah salah satu yang terpenting untuk menumbuhkan semangat. Ada dua type komunitas: fire-fighter (=yaitu orang yang akan terus menyiramkan air di atas api semangat kita), type yang satu ini sebaiknya dijauhi; dan fire-lighter (=yaitu orang yang akan membantu kita menjaga api dalam diri kita untuk terus menyala, bahkan menyala lebih lagi), type yang seperti inilah yang seharusnya menjadi kumpulan komunitas kita, karena semangat adalah sikap yang dapat menular.
Ibunda dari (alm.) Bp. Yeremia Rim adalah salah satu contoh; bahwa dalam usianya yang ke-81, beliau baru saja menyelesaikan kuliah S-1 Theologi nya; juga beliau masih mau mengikuti kelas pemuridan Dasar Kekristenan dan Hidup Berjemaat. Dengan semangatnya yang masih berapi-api, kami sekelas pun juga ikut memiliki semangat yang sama.
C. INISIATIF
Pengkotbah 11:4 Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan senantiasa melihat awan tidak akan menuai.
Orang-orang yang berinisiatif adalah orang-orang yang tidak menunggu segala sesuatu untuk menjadi sempurna dulu untuk melakukan segala sesuatu.
Tunangan saya pernah bercerita bahwa pada waktu SMA, dia pernah menginginkan menjadi pelatih dan koordinator untuk tim menari, padahal saat itu teman dan guru-gurunya tidak ada yang mengetahuinya, sampai suatu hari ada tawaran dan dia berinisiatif mengajukan diri untuk mengambilnya dan berhasil. Kalau pada saat itu, dia tidak berinisiatif menawarkan diri, maka sampai sekarang keinginan itu hanya sekedar menjadi keinginan saja. Terlalu banyak dari kita seringkali memiliki ide yang brilliant tapi tidak pernah terwujud karena hanya berakhir dalam pikiran kita saja.
Untuk bisa mempunyai inisiatif, diperlukan keberanian untuk mampu mengalahkan ketakutan kita. Seringkali bayangan kita mengenai suatu masalah adalah jauh lebih besar daripada kenyataannya pada saat kita menjalaninya.
Ada sebuah cerita mengenai seorang pemilik rumah dengan kebun yang luas. Beberapa malam dia mendengar suara kodok yang bergema di kebunnya. Pagi berikutnya dia meminta tukang kebun untuk mencari kodok di kebunnya, yang ternyata hanya ada satu kodok yang membuat gema suara seolah-olah ada banyak kodok di kebunnya. Masalah adalah sama seperti kodok di dalam kebun. Mereka sering kelihatan besar dan banyak sebelum kita jalani. Tapi setelah kita jalani, ternyata tidak sebesar dan sebanyak yang kita kuatirkan.
D. FOKUS
I Korintus 9:26 Sebab aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan memukul.
Filipi 3:13b aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.
Seringkali bayangan masa lalu atau kegagalan di masa lalu yang menjadikan penghalang terbesar bagi orang untuk bisa terfokus pada sasaran sebenarnya yang di depan. Orang seharusnya belajar dari masa lalu dan tidak membiarkan diri hidup di dalamnya dan memusatkan perhatian pada hasil yang akan dicapai. Juga tidak terlampau hidup dalam masa depan. Masa depan sebaiknya hanya menjadi sasaran, tapi tidak membawa kita hidup di dalamnya saat sekarang.
Jim Elliot berkata, “Dimanapun Anda berada, jadilah seutuhnya disana.”
Fokus adalah sama saja dengan berburu dua kelinci sekaligus. Kita tidak akan pernah berhasil jika kita ingin menangkap keduanya sekaligus. Orang yang hidup dalam masa lalu sama seperti orang yang berburu dan meleset pada tembakan pertama dan ketakutannya terus membekas pada tembakan-tembakan berikutnya sehingga akhirnya tidak bisa memaksimalkan konsentrasinya. Orang yang hidup dalam angan-angan masa depannya adalah sama seperti pemburu yang hanya memegang senapannya dan hanya membayangkan kelinci bakar atau sate kelinci yang lezat tapi tidak pernah menarik pelatuk senapannya.
Untuk bisa memfokuskan diri kepada sasaran, diperlukan latihan.
E. SIKAP BISA DIAJAR
Amsal 1:5 baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan—
Penulis ayat di atas adalah Salomo, raja terbesar dan orang yang paling memiliki hikmat sepanjang masa; meskipun demikian Salomo masih tetap mau mendengar dan menambah ilmu. Belajar adalah suatu kegiatan yang tidak terbatas oleh umur. Namun seringkali orang-orang yang merasa berbakat malah mereka menjadi orang-orang yang tidak mau diajar lagi.
Kita bisa melihat perbedaan dari Raja Saul dan Raja Daud. Pada saat Samuel memperingatkan kesalahan Saul, dia malah membantah dan mencoba memposisikan diri tidak bersalah (1 Samuel 15:1-35). Sedangkan Raja Daud, pada saat Nabi Natan memperingatkan kesalahannya, dia langsung menyesal dan memohon ampun kepada TUHAN (2 Samuel 12:1-25). Dari kedua contoh ini, kita bisa melihat bahwa Saul memiliki sikap tidak bisa diajar yang akhirnya membawa kemurkaan ALLAH; sedangkan Daud memiliki sikap mau diajar yang pada akhirnya tetap membuahkan kesenangan ALLAH.
Musuh dari sikap bisa diajar adalah kesombongan dan untuk bisa memiliki sikap bisa diajar, harus ada sikap rendah hati.
F. KARAKTER
Matius 5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.
Bakat mampu membawa seseorang menuju ke puncak, namun tanpa karakter orang tidak akan mampu bertahan di puncak. Orang seringkali terbalik menerapkan: mereka menginginkan reputasi terlebih dahulu, tanpa memperhatikan karakter; padahal dengan memiliki karakter, maka secara otomatis kita akan memiliki reputasi.
Contoh tokoh dalam Alkitab yang memiliki karakter yang teguh adalah Yusuf. Dimana sejak dari penganiayaan oleh kakak-kakaknya, pemfitnahan oleh istri Potifar, juru masak yang melupakan dia di penjara; tapi kejadian-kejadian sepahit apapun tidak melunturkan karakternya.
Character is “what you are in the dark”
Untuk memiliki karakter, pertama-tama kita perlu memiliki prinsip-prinsip dan nilai-nilai dan belajar untuk menaklukkan diri sendiri dengan berdisiplin melakukannya.
G. TANGGUNG JAWAB
Matius 25:23b Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
Orang-orang yang menangani tanggung jawab mereka dengan baik akan mendapatkan kesempatan untuk menangani tanggung jawab tambahan.
Untuk menjadi seorang pribadi yang bertanggung jawab, mulailah dengan:
- berhenti mempersalahkan orang lain
- menyelesaikan apa yang sudah dimulai
- jangan harapkan orang lain untuk menggantikan Anda
End Story:
Seorang jenderal yang meninggal, bertemu dengan Rasul Petrus di gerbang surga. Karena tertarik dengan sejarah kemiliteran, sang jenderal bertanya, “Petrus, siapakah jenderal terbesar di sepanjang masa?” Petrus segera menjawab, “Oh, itu pertanyaan sederhana. Itulah orangnya yang ada disana.”
“Anda pasti keliru,” jawab jenderal. “Saya kenal orang itu sewaktu hidup dan dia hanya seorang pekerja biasa.” Itu benar, sahabatku; ia bisa menjadi jenderal terbesar sepanjang masa, jika saja ia menjadi seorang jenderal.”
Moral cerita ini adalah apa yang mau kita capai dalam hidup, semuanya bergantung kepada pilihan yang kita buat dan mau kita kerjakan. Dan yang terpenting bagi pertumbuhan kita adalah seorang mentor yang mau mengajar dan menumbuhkan potensi kita.
By: Budi Santoso
Minggu, 29 Maret 2009
Orang Tua ( Parent )
Dalam pikiran saya “aku pernah mengalami hal yang sama seperti ini dulu dengan ayah saya” tapi aku sudah lama sekali tidak memeluk dia sekarang,sudah puluhan tahun.
Dengan beranjak usia saya sudah tidak lagi merasakan perasaan yang sama dimana saya merasa sangat aman berada di pelukan ayah saya,hal ini membuat aku merasa sangat sedih, kenangan itu sudah susah sekali terwujud kembali, saya merasa sangat rindu dan sayang kepada orang tua saya, yang mungkin sudah sering kali saya sakiti dan sering memberontak ataupun sering mengatakan hal-hal yang jelek kepada mereka, video klip ini sangat memukul hati saya,aku akan memperlakukan mereka dengan baik,merawat,dan menyayangi mereka ketika mereka masih ada.
Saya di lahirkan di keluarga Kong hu cu, dimana ketika ada org meninggal dunia, anak2nya akan membakar rumah2an, perabot, mobil, dan sampai boneka pembantu, supaya dapat menemani atau memberikan rumah di mana setelah mereka mati bisa dpt kemewahan, ada dalam keluarga saya disaat kakek saya masih ada, ada kakak ipar ayah saya yang sangat tidak suka kalau kakek saya tinggal bersama dengan dia, dia membangun rumah yg besar dan super mewah, tapi sebelum kakek saya meninggal dia memberitahukan kepada suaminya kalau kakek saya tidak boleh ikut tinggal di rumahnya yg besar itu, mungkin kakek saya juga mendengar hal ini, bagi org tua apabila ada anaknya yang setuju kepada istrinya melakukan hal ini, hati org tua mana yang tidak merasa sedih?
Jgn kan kakek saya, saya yang dengar aja merasa sangat marah, eh akan tetapi ketika kakek saya sudah meninggal, org ini yang mengeluarkan uang untuk membeli semua perabotan serta rumah2an lengkap dengan parabolanya untuk di bakar,dan supaya kakek saya yang sudah meninggal dapat menikmatinya di alam lain sana.
Apakah hal ini berguna?
Bagi saya sangat-sangat tidak berguna,karena kita tidak bisa menghargai orang ketika dia masih hidup,dan memberikan kebahagiaan kepada orang tua ketika mereka masih hidup.
Orang sudah meninggal kita baru berbuat baik bagi dia, ini penipuan diri yang sangat-sangat bodoh, rasa bersalah itu tidak akan hilang di hati walaupun org lain melihat kebaikan itu, tapi diri sendiri tidak akan merasa berbuat baik.
Seorang anak tidak akan merasakan sakitnya hati orang tua sebelum dia sendiri menjadi orang tua,tapi lebih parah lagi apabila kita yang sudah menjadi orang tua tapi tidak dapat mengerti dan menghargai orang tua kita sendiri.
Saya sekarang adalah org tua juga, ketika video itu di putar aku merasakan sekarang ini saya dapat mengendong anak saya, memeluk dia, memberikan keamanan kepada dia, tapi hal ini tidak akan kekal, ada pasti suatu hari aku akan pergi meningalkan dia, tapi aku tidak ingin dia merasa sedih seperti anak di video klip itu, saya tidak bisa memberikan keamanan lagi, tidak bisa menjaga dia lagi, tapi saya tahu ada seorang yang bisa memberikan keamanan bagi saya dan bagi keluarga saya, dia Yesus Kristus Allah Bapa kita, yang selalu akan menjaga kita selamanya.
Saya inginkan anak saya juga mengenal Bapanya yang sesungguhnya,teladan anak di tiru dari orang terdekatnya,apakah kita mau menjadi teladan bagi anak-anak kita?
Atau nanti anak-anak kita belajar teladan dari orang lain,baik sekali kalau benar,kalau di tiru teladan yang salah?
Kepada Papa dan Mama
Aku tidak akan mengerutu ketika aku harus menyuapimu di masa tuamu,
Karena di masa kecilku kamu juga menyuapiku dengan kasih sayangmu.
Aku tidak akan meremehkanmu ketika pikiranmu sudah tidak lagi sesehat dulu,
Karena di masa kecilku kamu juga dengan tulus mengajari dan mendidik aku.
Aku tidak akan mengeluh ketika aku harus menuntunmu di masa tuamu,
Karena di masa kecilku kamu juga menuntunku ketika aku belajar berjalan.
Aku tidak akan mengerutu ketika aku harus membiayai kamu di masa tuamu,
Karena di masa mudaku kamu telah memenuhi semua kebutuhanku.
Terima Kasih Papa dan Mama.
Selasa, 03 Maret 2009
Marah, Bukan Pemarah
Seorang pria diperintahkan hakim untuk menghadiri sebuah lokakarya pengendalian kemarahan karena menganiaya pacarnya. Pria itu tiba dalam keadaan mabuk di seminar dan begitu menyebabkan kemarahan si pemimpin lokakarya sehingga si penasihat pengendalian kemarahan “meninjunya, merubuhkannya ke lantai dan terus memukulinya,” menurut laporan berita. Pria itu kemudian mati.
Kemarahan seringkali menjadi sesuatu yang begitu sukar dikendalikan, bahkan bagi seseorang yang diakui sebagai “ahli”.
Diambil dari bahasa asli Alkitab, bahasa Yunani, “marah” dibagi menjadi dua kategori:
1. Orge, yaitu marah yang berkepanjangan, dan
2. Thymon / Thumos, yaitu marah yang sekilas saja; diilustrasikan seperti nyala api yang keluar dari bahan yang mudah terbakar; cepat muncul, membesar dan cepat padam.
Marah adalah sebuah warna emosi dari manusia, sama seperti perasaan bahagia atau sedih. Marah merupakan sebuah reaksi jasmani yang normal dan semua manusia yang hidup tanpa terkecuali pasti pernah mengalaminya. Perasaan marah timbul sebagai respon emosi atas ketidakadilan yang muncul di sekeliling kehidupan kita, bisa dari internal maupun dari eksternal.
Penyebab dari eksternal bisa disebabkan karena perbuatan orang lain; perbuatan yang tidak sesuai dengan keinginan atau harapan kita. Ketika seseorang mulai melanggar hak pribadi serta batas-batas emosi kita. Atau ketika kita menyaksikan kekonyolan perbuatan orang lain, mungkin bawahan kita. Penyebab eksternal yang kedua adalah kondisi atau keadaan, misalnya pada saat menghadapi jalanan yang macet. Kondisi dan situasi sekarang yang sedang kita alami yaitu krisis ekonomi juga bisa menyebabkan banyak orang menjadi mudah marah. Kemudian penyebab eksternal yang ketiga adalah karena ancaman atau bahaya, ketika seseorang mendapatkan ancaman atau hal yang membahayakan kehidupannya juga seringkali bisa menjadi pemicu munculnya amarah.
Penyebab lain adalah dari dalam diri sendiri atau penyebab dari internal; misalnya kekuatiran atau perasaan yang berlebihan; perasaan kurang percaya diri atau bisa juga karena kenangan atau trauma masa lalu. Kenangan masa lalu seringkali membuat kita menjadi over protected (terlalu berhati-hati dan berjaga-jaga) terhadap orang lain. Sebagai contoh ada orang yang latar belakang sikapnya adalah seorang yang sabar dan lemah lembut tapi sehari-harinya di perusahaan tempatnya bekerja, dia memposisikan dirinya sebagai orang yang pemarah pada saat bertemu dengan bawahannya. Ini dilakukan untuk menghindari ketidaksopanan dan sikap tidak hormat dari bawahannya.
Di dalam kitab Amsal, dalam kumpulan amsal-amsal Salomo, banyak sekali menuliskan mengenai nasihat untuk lambat-lambat marah:
Amsal 14:17
Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana bersabar.
Amsal 14:29
Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan
Amsal 15:1
Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah
Amsal 16:32
Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota.
Amsal 18:13
Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.
Amsal 19:11
Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.
Amsal 19:19
Orang yang sangat cepat marah akan kena denda, karena jika engkau hendak menolongnya, engaku hanya menambah marahnya.
Amsal 20:3
Terhormatlah seseorang,jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak.
Amsal 29:8
Pencemooh mengacaukan kota, tetapi orang bijak meredakan amarah.
Orang yang lekas naik darah, cepat marah, senang membiarkan amarahnya meledak dikatakan sebagai “orang bodoh”. Penentu keberhasilan seseorang tidak terlepas dari caranya dalam menangani amarah; karena hal menangani amarah adalah salah satu factor pendukung bagi seseorang untuk bisa mendapatkan hikmat yang benar, seperti yang tertulis dalam:
Pengkotbah 7:8b-9
Panjang sabar lebih baik dari pada tinggi hati.Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.
Sebagian orang mengaitkan kemarahan dengan tingkat kerohanian seseorang dimana seolah-olah jika ada orang yang marah adalah orang yang belum dewasa secara rohani. Bahkan ada beberapa yang mengatakan bahwa marah itu berdosa. Jika marah itu berdosa, berarti Allah kita adalah pendosa; karena marah itu adalah suatu sifat alami yang dari Allah. Dalam kitab Perjanjian Lama bisa ditemukan 455 kata marah, yang mana sebanyak 375 kali adalah merupakan kemarahan dari Allah sendiri.
Mengatakan apakah marah itu berdosa adalah sama halnya dengan menanyakan apakah kasih itu baik: Kasih terhadap Allah, terhadap orang tua dan sesama sudah pasti baik; tetapi kasih kepada pornografi, kepada materialistis sudah pasti tidak baik. Sama halnya dengan marah. Apakah marah itu berdosa atau tidak bergantung pada: sifat kemarahan, sasaran kemarahan, obyek kemarahan, cara pengungkapan serta motivasi atau tujuan dari kemarahan tersebut.
Tiga pendekatan utama / respon dalam menanggapi amarah adalah mengungkapkan, memendam, dan meredakan:
1. Memendam
Pandangan di atas bahwa orang yang mudah marah adalah orang yang belum dewasa secara rohani, seringkali membuat kita jadi memendam perasaan pada saat kemarahan itu seharusnya muncul. Padahal seharusnya penanganan dengan cara ini adalah yang paling berbahaya karena ada kecenderungan untuk menimbulkan akar dendam atau kepahitan di dalam hati yang sewaktu-waktu akan bisa meledak (bom waktu); seperti yang tertulis dalam:
Amsal 30:33
Sebab. kalau susu ditekan, mentega dihasilkan, dan kalau hidung ditekan, darah keluar, dan kalau kemarahan ditekan, pertengkaran timbul.
2. Mengungkapkan
Pengungkapan amarah tidak selalu diungkapkan dengan membentak-bentak atau dengan nada keras; pengungkapan seperti itu justru memperlihatkan bahwa orang tersebut dikuasai berlebihan oleh amarahnya. Pengungkapan amarah bisa secara ramah dan sopan serta terkontrol. Dan yang terlebih penting lagi bahwa pengungkapan amarah tersebut memiliki motif dan tujuan yang benar serta tidak ada dendam.
3. Meredakan
Respon ini adalah respon yang terbaik dalam menangani amarah, yaitu dengan menentukan pilihan kita sendiri untuk tidak menanggapi / mengikuti perasaan amarah itu dengan tidak membiarkan kesadaran kita dikuasai oleh kemarahan kita sendiri.
Pada saat diskusi, ada yang membagikan pengalamannya bahwa setiap kali rasa marah itu datang, dia selalu berkata dalam hatinya: “Marah = Bodoh; marah = Bodoh; …”. Sembari pelan-pelan amarahnya menurun, dia akan mulai memikirkan apakah motivasi kemarahannya terfokus pada diri sendiri, orang lain, atau Tuhan.
Saya menyimpulkan ada tiga motif kemarahan; yaitu mengasihi Allah, mengasihi manusia dan mengasihi diri sendiri. Sejauh kemarahan itu memiliki motivasi untuk membela kepentingan Allah atau untuk menolong sesama manusia, itu merupakan amarah yang benar, Tapi selama motivasi kemarahan itu karena mengasihi diri sendiri (merasa hak pribadinya terancam atau kuatir), maka amarah itu hanyalah amarah manusia, yang dituliskan oleh Yakobus: amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yakobus 1:20). Amarah seperti ini adalah serupa dengan kekesalan Yunus (Yunus 4:1-11), dimana Allah dua kali bertanya: “layakkah engkau marah?” (Yunus 4:4,9)
Saya mengambil contoh dalam Bilangan 25:1-18 mengenai kemarahan Pinehas yang menyurutkan murka Allah: karena ia begitu giat membela kehormatan-Ku di tengah-tengah mereka, sehingga tidaklah kuhabisi orang Israel dalam cemburu-Ku (Bilangan 25:11). Kemarahan ini sama dengan kemarahan yang sama dengan yang dilakukan Tuhan Yesus di Bait Allah (Yohanes 2:13-25), yaitu untuk membela kepentingan TUHAN.
Motivasi amarah yang berlatar belakang dari mengasihi manusia adalah seperti kemarahan Tuhan Yesus kepada kedegilan hati orang Farisi yang berusaha mencari-cai kesalahan-Nya pada saat Tuhan Yesus ingin menolong orang lain (Markus 3:1-6). Atau kemarahan Yesus dalam Markus 10:14 yang disebabkan oleh murid-murid yang menghalangi anak-anak kecil datang kepada-Nya.
Berikut adalah beberapa ekspresi kemarahan:
1. Kemarahan yang meledak-ledak
Ini adalah jenis kemarahan seperti yang dituliskan di dalam Amsal 14:17, 18:13, 19:19 ; harus dikontrol
2. Kemarahan yang berdosa
Adalah kemarahan yang tertuju kepada person / orang ; tidak memiliki alasan / motivasi yang jelas ; dan untuk alasan balas dendam.
Kemarahan seperti ini harus ditahan atau dihilangkan sama sekali, karena sesuai dengan Roma 12:19 “… janganlah kamu sendiri yang menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan …”
3. Kemarahan yang dipendam
Kejengkelan yang dipendam seperti ini harus ditaklukkan untuk mencegah timbulnya bahaya yang dahsyat dengan konsekuensi satu kepahitan yang seringkali kepahitan itu menular juga terhadap lingkungan sekitar (keluarga & anak-anak).
4. Kemarahan yang suci
Kemarahan yang suci dan kudus adalah kemarahan Allah sendiri dan juga kemarahan yang ditujukan kepada dosa, ketidakbenaran, kemunafikan dan kejahatan.
Efesus 4:26,27 menuliskan: “Apabila kamu marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Dalam terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari dikatakan: “Kalau kalian marah, janganlah membiarkan kemarahan itu menyebabkan kalian berdosa. Janganlah marah sepanjang hari supaya Iblis tidak mendapat kesempatan.”
Dari ayat tersebut sudah jelas digariskan bahwa Alkitab tidak melarang kita untuk marah, dengan batasan:
1. Jangan menyebabkan kita berdosa
Seringkali ketika kita sedang marah, kesadaran kita dikuasai oleh amarah sehingga menyebabkan kita melakukan dosa melalui kata-kata atau tindakan fisik. Amarah yang benar adalah amarah yang ditujukan kepada dosa dan dengan motivasi kasih kepada sesama.
2. Jangan marah sepanjang hari
Artinya kalau kita marah, segera selesaikan dengan orang yang bersangkutan. Jangan memendam kemarahan di dalam hati. Amarah yang disimpan di dalam hati, seringkali malah menjadi seperti bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu. Selain itu masalah yang tidak langsung diselesaikan bisa menjadi akar pahit.
3. Jangan beri kesempatan kepada Iblis
Amarah yang dipendam seringkali memberi kesempatan kepada Iblis untuk membisikkan lebih banyak lagi hal yang membuat kemarahan kita menjadi semakin membesar.
Saya ingin tutup dengan satu biografi penginjilan berjudul Aggie :
Sepasang suami istri dari Swedia dipanggil untuk melayani di pedalaman hutan Belgian Congo, yang sekarang disebut Zaire. Singkat cerita, David Flood dan Svea bersama anaknya David Jr, mengalami penolakan di beberapa desa yang akan mereka singgahi karena orang kulit putih dianggap akan membuat marah dewa-dewa mereka. Selama beberapa bulan, Svea yang sedang hamil bertahan melawan demam yang hebat dan tetap setia memberikan bimbingan rohani kepada satu-satunya anak kecil laki-laki penduduk asli yang dimenangkan , bertobat dan mengenal injil melalui keluarga Flood.
Sampai tiba saatnya Svea melahirkan, ia berhasil melahirkan anak perempuan. Namun akhirnya Svea meninggal dunia. David Flood sangat terpukul terhadap kejadian itu dan akhirnya timbul kekecewaan yang sangat pahit dalam hatinya terhadap Tuhan, suatu amarah yang tak sanggup dikontrolnya. David Flood dan David Jr pulang ke Swedia dan anak perempuannya yang baru saja lahir dititipkan kepada kantor misi disana.
Singkat cerita, anak kecil perempuan itu, Aggie tumbuh menjadi dewasa dan menikah dengan seorang pendeta. Suatu hari Aggie dan suaminya mendapatkan tiket pulang pergi ke Swedia dan ini merupakan kesempatan baginya untuk mencari ayahnya. Mereka melewatkan mampir ke London, dan mendengar seorang pengkotbah kulit hitam yang sedang menyaksikan bahwa Tuhan sedang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang besar di Zaire; yang mana orang ini adalah bocah yang telah dilayani oleh ibunya Svea Flood.
Ia telah tumbuh menjadi seorang penginjil melayani bangsanya di Zaire dan pekerjaan Tuhan berkembang dengan pesat yang kemudian berkembang menjadi 110.000 orang Kristen, 32 pos penginjilan, beberapa sekolah Alkitab dengan sebuah rumah sakit dengan 120 tempat tidur.
Mempersingkat cerita, akhirnya Aggie bertemu dengan ayahnya dan kakak-kakaknya. David Flood, yang dulunya seorang penginjil, seorang tua yang berumur 73 tahun , menderita diabetes, stroke dan katarak, serta meninggalkan 4 anak pria (termasuk David Jr) serta satu lagi anak perempuan yang sangat membenci ayahnya.
Aggie kemudian bercerita tentang pengkotbah kulit hitam yang bertemu dengannya di London dan bagaimana Tuhan melakukan pekerjaan –pekerjaan besar melalui satu-satunya hasil pelayanan David & Svea di Belgian Congo. Seketika Roh Allah turun atasnya dan David Flood tersadar dan tidak sanggup menahan hatinya. Air mata duka cita dan pertobatan mengalir di wajahnya, Allah telah memulihkan hidupnya. Tak lama setelah pertemuan itu, David Flood meninggal. Walalupun ia telah dipulihkan untuk kembali kepada Tuhan, ia meninggalkan kehancuran. 5 anak yang semuanya tidak bertobat dan memiliki hati yang dipenuhi kekecewaan dan kepahitan.
Apabila engkau marah dan dikecewakan, jangan berikan kesempatan kepada kepahitan untuk menguasai hidupmu. Alangkah lebih baik lagi apabila kita bisa menghindari kemarahan sejauh mungkin.
By: Budi Santoso
Jumat, 27 Februari 2009
DISCOVER THE KINGDOM OF GOD
Dalam proses ini teman-teman seiman mendapat peran sangat penting. Teman-teman seiman bisa membantu, menyemangati, membangun, menasihati, terutama disaat kita lemah dan sepertinya menemui jalan buntu. Kita juga bisa saling mencurahkan dan men-share pengalaman-pengalaman hidup kita antar teman seiman dan bersama-sama berdoa untuk mencari solusinya.
Ayat2 yang mendukung:
1. Setelah menemukan Kerajaan Sorga, kehidupan kita sebelumnya adalah sia2 dan tidak ada artinya.
Matius 13 : 44-46.
13:44. "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.
13:45 Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.
13:46 Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."
2. Fokus kita yang utama harus mencari Kerajaan Allah dahulu, jangan kebalikannya.
Matius 6:33.
6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
3. Tidak hanya membaca, tetapi kita harus menyelidiki Firman Tuhan.
Mazmur 111:1-5
111:1. Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah.
111:2 Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya.
111:3 Agung dan bersemarak pekerjaan-Nya, dan keadilan-Nya tetap untuk selamanya.
111:4 Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan-Nya peringatan; TUHAN itu pengasih dan penyayang.
111:5 Diberikan-Nya rezeki kepada orang-orang yang takut akan
By: chendra Sutikno
Selasa, 24 Februari 2009
Merencanakan & mempunyai VISI pada tahun 2009 yang ditopang oleh PENGHARAPAN & IMAN yang luar biasa.
* 2009 adalah tahun yang serba sulit. Hampir semua orang/media/pakar2 ekonomi local & dunia meramalkan bahwa tahun ini adalah tahun terparah bagi ekonomi dunia.
Even di China yang pertumbuhan ekonominya paling tinggi di dunia (2 digit) sampai harus di rem, itu pun juga terkena dampaknya. Properti disana yang booming skrg cut prices, dsb. (beritanya saya dapat dari CNN bbrp hr yang lalu).
Ibrani 12:26 Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga."
12:27 Ungkapan "Satu kali lagi" menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan.
12:28 Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.
Amsal 12:3. Orang tidak akan tetap tegak karena kefasikan, tetapi akar orang benar tidak akan goncang.
- Nah, masalahnya sekarang ini bagaimana utk kita bisa STAY STABLE didalam Kerajaan yang tidak tergoncangkan itu?? Nah ini yang akan kita bahas bersama malam ini.
Langkah pertama : Kita harus punya RENCANA atau VISI tahun 2009 ini. VISI ini harus VISI yang besar (jangan visi yang kecil & biasa2 saja). Kita harus membuat rencana secara detail dan kita doakan kemudian kita taruh rencana tsb dibawah kaki Tuhan.
Banyak contoh kisah di Alkitab bahwa orang yang mempunyai visi yang besar dan jauh kedepan pasti mempunyai kisah kehidupan yang luar biasa. Spt Hizkia, Salomo, Daniel, Yusuf, dan banyak lagi.
Langkah kedua : Kita harus membawa VISI atau RENCANA kita kedalam IMAN & PENGHARAPAN.
Terlalu sering kita mengatakan utk mempercayai Tuhan untuk melakukan hal2 baik, tapi tindakan kita menyatakan justru sebaliknya, kita jadi ragu dan bimbang, apakah Tuhan bisa menolong kita utk menyelesaikan masalah2 kita?
Kisah Minyak seorang janda (2 Raj 4:1-7).
4:1. Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: "Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya."
4:2 Jawab Elisa kepadanya: "Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah." Berkatalah perempuan itu: "Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak."
4:3 Lalu berkatalah Elisa: "Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit.
4:4 Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!"
4:5 Pergilah perempuan itu dari padanya; ditutupnyalah pintu sesudah ia dan anak-anaknya masuk; dan anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, sedang ia terus menuang.
4:6 Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: "Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi," tetapi jawabnya kepada ibunya: "Tidak ada lagi bejana." Lalu berhentilah minyak itu mengalir.
4:7 Kemudian pergilah perempuan itu memberitahukannya kepada abdi Allah, dan orang ini berkata: "Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu."
Ayat 3 : Jangan terlalu sedikit = Iman & Pengharapan harus BESAR, VISI kita harus BESAR, Bejana harus banyak = kapasitas kita harus besar.
Ayat 6 : Tidak ada lagi bejana, minyak berhenti mengalir = berkat berhenti sesuai dgn capacity kita, iman kita, visi kita, pengharapan kita. Bukan sebaliknya, berkat berhenti dulu, sedangkan capacity kita masih ada. Kalau saja pr itu mau mencari lagi bejana2 yang kosong, mungkin lari2 kesana kemari (try harder) pasti dapat lagi dan pr itu akan mendapatkan minyak yg lbh banyak. Jadi sebenarnya kita yang membatasi Tuhan, padahal sumber dayaNya tidak terbatas.
Mari kita membuat tantangan utk tahun 2009 ini & membuat terobosan dalam kehidupan kita. Tahun 2009 bukanlah tahun susah, tapi tahun penuh berkat! Tahun 2009 adalah tahun terbaik dalam hidup kita! Kebaikan dan kemurahan Tuhan akan mengelilingi kita! Tahun 2009 kita akan mengalami peningkatan.
Buat list utk Visi kita masing2 dan tulis di kertas. Kita mau buat pernyataan iman bahwa semua yang kita tulis akan terealisasi sesuai dgn iman & pengharapan kita dan tentunya waktunya Tuhan. Pengembangan usaha? Ekspansi usaha baru? Hutang yang lunas? Saudara/suami/istri/ortu/mertua yg blm terima Tuhan Yesus? Sembuh dari sakit penyakit? Promosi pekerjaan? Mendapat pekerjaan yang cocok dan bisa mengembangkan karier? Dll………Nanti kita simpan sbg pengingat (taruh dompet, laci nakas, tas, dll) utk dibawa kedalam doa tiap hari. Nanti juga kalau sudah dijawab sama Tuhan harap kesaksian!
By: Chendra Sutikno